Corona Ancaman Nasional, Peneliti: BIN Wajib Selamatkan Masyarakat

- 28 September 2020, 21:19 WIB
Logo Badan Intelijen Negara (BIN).
Logo Badan Intelijen Negara (BIN). /Dok. BIN

ISU BOGOR - Pro kontra keterlibatan Badan Intelijen Negara (BIN) dalam dalam menangani Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) terus menuai reaksi beragam.

Terlebih, belum lama ini editorial salah satu majalah nasional sempat mempertanyakan dan melarang BIN ikut terlibat dalam mengatasi pandemi Covid-19 ini.

Menurut Peneliti Kajian Stratejik Intelijen UI Ridlwan Habib menyebutkan Corona sudah menjadi ancaman nasional, sehingga BIN punya kewajiban ikut mengatasi Corona.

Baca Juga: Orang Tanpa Gejala Covid-19 DKI Capai 45 Persen, Tower 8 RSD Wisma Atlet Disiapkan

"BIN wajib menyelamatkan masyarakat dari ancaman keamanan berupa pandemi, itu justru amanat UU 17 tahun 2011 tentang Intelijen," ujarnya dikutip IsuBogor.com dari RRI di Jakarta, Senin 28 September 2020.

Menurut Ridlwan, sesuai tugas pokok BIN sebagai lini depan pertahanan nasional, BIN boleh membuat satgas penanganan Corona.

"Aturan di UU Intelijen ada di pasal 30, satgas tentu berkualifikasi medis dan sesuai dengan bentuk ancaman, "ujarnya.

Di Amerika Serikat, lanjutnya, ada NCMI atau National Centre for Medical Intelligence.

Baca Juga: Satgas Covid-19 Pastikan Hari Ini Puluhan Wartawan Kontak Erat Ketua DPRD Bogor Jalani Swab Test

"NCMI di Amerika bekerja di bawah Defense Intelligence Agence atau Intelijen Kementerian Pertahanan dan juga sedang mati-matian melawan Corona di Amerika, "kata alumni S2 Intelijen UI tersebut.

Pandemi corona sudah merupakan ancaman nasional yang tidak saja melumpuhkan nyawa manusia namun juga berdampak luas di sisi ekonomi, politik dan hubungan internasional.

"Jangan memahami definisi ancaman secara sempit, seolah olah intelijen hanya boleh mengurusi penjahat dan teroris, itu pandangan yang sempit, kuno dan ketinggalan jaman, ujar Direktur The Indonesia Intelligence Institute itu.

Baca Juga: UPDATE: 25 Warga Kota Bogor Kembali Dilaporkan Positif Covid-19 Dalam Sehari, Minggu 27 September 20

Ridlwan menjelaskan, setiap kegiatan BIN wajib dilaporkan pada Komisi 1 DPR sebagai perwakilan rakyat.

"Sejauh yang saya dengar, DPR justru memgapresiasi kerja BIN yang memperbanyak tes dan tracing di berbagai wilayah di Indonesia, "katanya.

Soal perbedaan hasil tes swab, menurut Ridlwan, sangat mungkin terjadi karena perbedaan alat maupun standar pengukuran load virus.

"Jika seseorang diperiksa di hari Senin masih positif, lalu tes di hari Selasa sudah negatif, ada waktu 24 jam yang menentukan kadar sisa virus atau load virus, dalam istilah medis disebut Ct," katanya.

Baca Juga: Sebulan PSBMK, Pemkot Bogor Amankan 1.146 Pelanggar Protokol Kesehatan dan Denda Rp 41 Juta

Tindakan BIN yang memperbanyak swab tes dan tracing menurut Ridlwan sejalan dengan ide kalangan LSM dan aktivis kesehatan yang selama ini mendesak pemerintah memperbanyak tes.

"BIN tampaknya mendengar saran para SJW atau social justice warrior yang selama ini besuara di media sosial, ini terobosan yang baik dalam organisasi intelijen,"katanya.

Bahkan, lanjut Ridlwan, STIN akan segera membuka khusus S2 Intelijen Medis agar agen agen BIN lebih terlatih menghadapi pandemi.

"Prinsip intelijen harus bisa mengatasi ancaman apapun di masa depan yang membahayakan keselamatan masyarakat luas, upaya ini semestinya didukung bukan justru disalahkan," pungkasnya.***

 

Editor: Iyud Walhadi

Sumber: RRI


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah

x