Polisi Masih Identifikasi Korban Predator Anak Asal Prancis  

10 Juli 2020, 20:43 WIB
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Yusri Yunus. / ANTARA/Fianda Rassat/

 

ISU BOGOR - Polda Metro Jaya, masih mengidentifikasi identitas ratusan korban anak perempuan yang menjadi korban eksploitasi atau pelecehan seksual tersangka Francois Abello Camille alias FAC alias Frans alias Mister (65).

"Iya (masih identifikasi). Ini anak kecil kan belum punya KTP, itu yang menjadi masalah. Makanya pelan-pelan kita masih identifikasi," ujar Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Yusri Yunus, Jumat 10 Juli 2020.

Dikatakan Yusri, penyidik saat ini baru mengidentifikasi 17 korban. Belum diketahui apakah ada korban baru atau tidak.

Baca Juga: Dua Pasien Positif Asal Kota Bogor, Ditangani Detektif Covid-19

"Baru 17 korban. Kalau bertambah kita belum tahu, tapi (video) yang ada di laptopnya segitu. Iya (305 anak perempuan)," ungkapnya.

Sebelumnya, Polda Metro Jaya menangkap tersangka Francois Abello Camille alias FAC alias Frans alias Mister (65), lantaran diduga mengeksploitasi dan melakukan kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur, di sejumlah hotel, di bilangan Jakarta Barat. Tidak tanggung-tanggung, pria tua asal negara Prancis itu diduga melecehkan setidaknya 305 anak dengan modus hendak dijadikan foto model.

Baca Juga: Super Cepat, Polis Tangkap Pelaku Penyebar Data Pribadi Benny Siregar 

Kronologis pengungkapan bermula ketika Sub Direktorat Remaja, Anak dan Wanita Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, mendapatkan informasi terkait dugaan tindak kejahatan eksploitasi atau pelecehan seksual terhadap anak perempuan.

Kemudian dilakukan penyelidikan dan mendatangi lokasi di hotel PP, Jalan Mangga Besar, sekitar Lokasari, Tamansari, Jakarta Barat. Pada salah satu kamar di hotel itu penyidik mendapati tersangka dalam kondisi setengah telanjang bersama dua anak perempuan dengan kondisi telanjang dan setengah telanjang.

Selanjutnya, tersangka dan barang bukti berupa 21 pakaian atau kostum yang dipakai korban untuk pemotretan, laptop, enam memory card, enam kamera, dua flash kamera, satu microfon, satu lighting, dua card reader, dua DVR, dua alat bantu seks atau vibrator, satu pelumas, 20 kondom, satu kimono, paspor tersangka, dan kertas tagihan hotel, dibawa ke Polda Metro Jaya.

Baca Juga: 7 Langkah Antisipasi Erupsi Gunung Merapi Saat masa Pandemi Covid-19 

Polisi menduga setidaknya ada 305 anak perempuan menjadi korban berdasarkan temuan rekaman video yang disimpan di laptopnya. Korbannya kebanyakan anak jalanan yang didandani, kemudian dipotret dan dilecehkan.

Modus operandi tersangka biasanya berjalan-jalan mencari kerumunan anak-anak perempuan, kemudian didekati, ditawarkan dan dibujuk untuk menjadi foto model. Ketika ada anak perempuan yang mau, maka korban dibawa ke kamar hotel yang sudah "disulap" menjadi mirip studio. Dalam menjalankan aksinya, tersangka menyiapkan kamera tersembunyi untuk merekam perbuatannya. Anak yang disetubuhi diberikan imbalan uang Rp 250.000 sampai Rp 1 juta.***

Editor: Chris Dale

Tags

Terkini

Terpopuler