Boikot Produk Prancis Berpengaruh, Presiden Macron 'Ciut' Kirim Utusan Khusus ke Negara-negara Islam

- 4 November 2020, 23:48 WIB
Sebuah surat kabar Iran menerbitkan kartun yang menunjukkan Presiden Prancis Emmanuel dalam bentuk setan, sehubungan dengan pernyataannya di mana dia mendukung penerbitan kartun yang menyinggung Nabi Muhammad (SAW).*
Sebuah surat kabar Iran menerbitkan kartun yang menunjukkan Presiden Prancis Emmanuel dalam bentuk setan, sehubungan dengan pernyataannya di mana dia mendukung penerbitan kartun yang menyinggung Nabi Muhammad (SAW).* /Twitter @ababeel122

ISU BOGOR - Presiden Prancis Emmanuel Macron sepertinya mulai ciut atau takut dengan semakin meluasnya boikot produk dan sentimen Anti Prancis diberbagai negara muslim (berpenduduk mayoritas bergama Islam) di dunia.

Informasi diperoleh menyebutkan, Prancis dikabarkan mulai mempertimbangkan saran Uni Emirat Arab (UEA) sekutunya dalam meredam sentimen Anti Prancis diberbagai negara muslim.

Salah satunya adalah dengan mengirim utusan untuk mengklarifikasi gagasan Presiden Macron soal sekularisme dan kebebasan berekspresi.

Baca Juga: Klarifikasi Presiden Emmanuel Macron Terkait Karikatur Nabi: Saya Paham Kemarahan Umat Islam

 

"Prancis sedang mencari untuk menunjuk utusan khusus untuk menjelaskan pemikiran Emmanuel Macron tentang sekularisme dan kebebasan berekspresi dalam upaya untuk memadamkan reaksi anti-Prancis yang tumbuh di beberapa negara Muslim," kata para pejabat Prancis sebagaimana dilansir The Guardian, Rabu 4 November 2020.

Pasalnya, hingga saat ini sentimen anti-Prancis yang kian meluas berpotensi memperdalam konflik yang sudah mengakar antara Macron dan Turki terkait Libya dan eksplorasi minyak di Mediterania timur.

Macron telah melakukan satu wawancara panjang tentang Al Jazeera Arabic untuk membenarkan pendekatannya, tetapi sejauh ini hanya menerima dukungan sepenuh hati atas pendiriannya dari Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab, Anwar Gargash.

Baca Juga: Uni Emirat Arab Bela Sikap Presiden Prancis Emmanuel Macron yang 'Anti' Islam

Halaman:

Editor: Iyud Walhadi

Sumber: The Guardian


Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X