Alasan Pakar COVID-19 China Pelajari Perubahan Iklim untuk Bersiap Hadapi Pandemi Global Berikutnya

- 21 Mei 2024, 19:38 WIB
Alasan Pakar COVID-19 di China Mempelajari Perubahan iklim untuk Bersiap Hadapi Pandemi Global Berikutnya
Alasan Pakar COVID-19 di China Mempelajari Perubahan iklim untuk Bersiap Hadapi Pandemi Global Berikutnya /Foto/Ilustrasi/Reuters
ISU BOGOR - Para ilmuwan dan dokter di seluruh dunia meningkatkan kesiapsiagaan mereka terhadap ancaman pandemi berikutnya yang dipicu oleh perubahan iklim. Meskipun pandemi COVID-19 masih berlangsung, upaya untuk memahami bagaimana perubahan iklim mempengaruhi mutasi dan penyebaran penyakit menular telah dimulai.

Direktur Pusat Medis Nasional untuk Penyakit Menular Tiongkok, Zhang Wenhong, memimpin upaya baru ini. Dia menyatakan bahwa dunia perlu bersiap menghadapi pandemi berikutnya.

Sebuah studi menemukan bahwa pemanasan permukaan laut memperluas wilayah tropis, menciptakan lebih banyak habitat bagi patogen dan vektor penyakit. Sebagai contoh, kasus ensefalitis dan penyakit Lyme, ditularkan oleh kutu, meningkat di Amerika Serikat. Di Tiongkok, demam berdarah menyebar ke wilayah yang sebelumnya tidak terjangkau.
 

Ahli kesehatan memperingatkan bahwa perubahan iklim juga meningkatkan risiko penyebaran penyakit seperti malaria, yang diperparah oleh perubahan suhu global dan pola curah hujan. Selain itu, kehangatan yang meningkat dapat memungkinkan spesies baru, termasuk bakteri dan jamur, masuk ke dalam populasi manusia.

Zhang menekankan pentingnya kerja sama global dalam mengumpulkan data dan merancang strategi pengelolaan penyakit. Proyek kerjasama antara Shanghai Sci-Tech Inno Centre dan Universitas Hong Kong bertujuan untuk menghadapi tantangan ini. Para ahli akan bekerja sama dalam penelitian dan pemantauan penyakit, dengan harapan menemukan peringatan dini untuk pandemi berikutnya.

Selain menghadapi penyebaran patogen, para ilmuwan juga prihatin dengan resistensi antimikroba yang semakin meningkat. Resistensi obat berkembang lebih cepat daripada penemuan antibiotik baru, dengan diperkirakan bahwa pada tahun 2050, 10 juta orang akan meninggal setiap tahun karena resistensi obat.
 

Inisiatif "One Health" yang digambarkan oleh WHO menggalang berbagai sektor masyarakat untuk mengatasi ancaman kesehatan global, mencakup peneliti, dokter, pejabat pemerintah, dan komunitas global.

Meskipun lockdown telah berakhir, ilmuwan tetap waspada terhadap mutasi baru COVID-19. Varian terbaru, KP.2, menjadi dominan di Amerika Serikat, menunjukkan perlunya pemantauan jangka panjang terhadap evolusi virus.***

 

Editor: Iyud Walhadi


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah