Ketika Varian Delta Mengamuk, Nakes di Asia Tenggara Diperingatkan untuk Tidak Berbicara

- 21 Juli 2021, 11:43 WIB
Ilustrasi Nakes Covid-19. Saat Varian Delta Mengamuk di Asia Tenggara, Petugas Kesehatan Diperingatkan untuk Tidak Berbicara
Ilustrasi Nakes Covid-19. Saat Varian Delta Mengamuk di Asia Tenggara, Petugas Kesehatan Diperingatkan untuk Tidak Berbicara /Pixabay Mariohage/

ISU BOGOR - Saat COVID-19 varian delta mengamuk hingga melumpuhkan sistem layanan kesehatan, sejumlah negara di Asia Tenggara berupaya membungkam suara para tenaga kesehatan (nakes).

Sejak awal Pandemi COVID-19, sistem layanan kesehatan terus menjadi sorotan publik internasional. Akibatnya para nakes yang menyuarakan keprihatinan membuat beberapa pemerintah di Asia Tenggara bersikap defensif.

Ketika krisis COVID-19 memburuk di sebagian besar Asia Tenggara, ketegangan antara otoritas pemerintah dan nakes yang kelelahan mengancam akan mendorong sistem kesehatan yang sudah rapuh ke titik puncaknya.

Baca Juga: Kabar Baik, 1.324 Warga Kota Bogor Sembuh Covid-19 dan Boleh Pulang

Di beberapa negara Asia Tenggara, penyedia layanan kesehatan yang menyerukan keamanan kerja yang lebih kuat, lebih banyak kesetaraan dalam akses ke layanan kesehatan, dan perlindungan yang lebih baik terhadap varian virus corona yang lebih menular, telah membuat pemerintah bersikap defensif.

Di Malaysia, yang memiliki salah satu tingkat infeksi per kapita tertinggi di kawasan itu, polisi telah membuka penyelidikan terhadap staf medis untuk menunjukkan dukungan mereka baru-baru ini untuk kampanye online “Code Black” dan “Black Monday” yang menyoroti penderitaan perawatan kesehatan kontrak muda pekerja yang mencari posisi permanen di pemerintahan.

Serikat pekerja yang mewakili profesional perawatan kesehatan negara telah menyatakan keprihatinannya.

Baca Juga: Kritik Jokowi soal Kegagalan Tangani COVID-19, Juru Wabah dr. Pandu Riono: Intervensi Terlambat

Asosiasi Medis Malaysia, yang mengorganisir gerakan digital, telah mengutuk penyelidikan polisi, menyebutnya "tidak perlu" dan suatu bentuk "pelecehan" terhadap dorongan solidaritas sederhana.

Halaman:

Editor: Iyud Walhadi

Sumber: The Diplomat


Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X